Entri Populer

Rabu, 28 Januari 2015

Darkness

DARKNESS

The dark to be darkness
It's so imposible to kill my mind
To make the situation right
While evil intimidate me tight

Help me
Just a simple thing for You
The sorrow inside
That I can't release to kill the pain

Something dark in my heart
Not easy to make it glad
Silent perhaps it bright
Quiet will hide depressing thing at deepest side

Indramayu, 11 Januari 2015

Tulisaja

Jumat, 16 Januari 2015

Sempurna

SEMPURNA

Cuaca mendung seharian menemani kalutnya pikiran. Sepertinya akan sempurna kalau sisa hari ini aku habiskan dengan mendengarkan lagu-lagu bluesnya Jimi Hendrix.

Laki-laki juga boleh menangis kan? Beri aku waktu sebentar untuk sendiri. Aku hanya perlu waktu untuk keluarkan satu tetes saja. Tidak lebih. Karena satu tetes air mata yang keluar dari seorang laki-laki pastinya bersumber dari sayatan luka yang paling perih. Dari sebuah kecamuk yang paling rumit.

Bleeding Heart, satu lagu blues dari Jimi Hendrix masih play on dan akan disusul Hear My Train Comming (accoustic). Aku benar-benar remuk sempurna.

Indramayu, 17 Januari 2015

Tulisaja

Kamis, 15 Januari 2015

Natural

NATURAL

"Cut !", teriak sang sutradara menghentikan adegan yang tengah berlangsung.

"Ini sudah berapa kali diulang? Aktingnya yang natural dong. Ayo coba lagi ya".

"Siap. Kameraaaaa .... eksyen".

Dua orang pemain itu pun mulai berakting lagi. Baru saja dialog dimulai, sutradara itu kembali menghentikan adegan.

"Cut ! Aduh Bunga, coba aktingnya yang enak, yang natural. Masa ngga bisa. Bisa kan?"

Bunga, artis penuh sensasi itu tersenyum dan mengangguk.

"Ok, kita coba lagi".

"Cameraaaa ..... eksyen".

Kembali, Bunga dan pasangan mainnya mulai berakting. Dialog baru meluncur beberapa kalimat ketika tiba-tiba sutradara kembali berteriak.

"Cut ... cut !"

"Sudah aku bilang natural natural. Bisa ngga sih? Ini bukan sinetron. Ini film. Bunga, coba yang natural. Jangan kaku seperti itu. Jangan disamakan dengan sinetron" omel sang sutradara dengan nada jengkel yang mulai kentara.

Melihat Bunga mulai kehilangan mood, sutradara menghentikan shooting dan meminta semua crew istirahat.

"Ok, kita rehat saja dulu, satu jam. Tepat satu jam dari sekarang kita mulai lagi".

"Bunga, coba dalami lagi skenarionya, dialognya. Latih lagi aktingnya. Di sinetron boleh asal akting, di film ini ngga bisa asal. Ok?" pinta sutradara kepada Bunga sedikit ketus.

Bunga, artis dengan banyak berita sensasional itu pun kembali ke mobilnya dengan wajah cemberut.
Seluruh crew pun bubar. Ada yang ngobrol sambil berteduh di rindang pohon besar dekat lokasi. Lebih banyak yang kembali beristirahat ke mobil masing-masing.

Asisten sutradara menghampiri sang sutradara yang masih duduk di bangku sutradara dalam posisi menunduk bungkuk dengan kedua telapak tangan ditangkubkan di muka dan kedua sikut tertanggal di atas paha.

"Susah ya boss", kata asisten sutradara sekedar berbasa basi.

Sang sutradara masih dengan posisi semula menanggapi, "akan menjadi sangat susah".

"Akting natural itu sangat susah".

"Apalagi buat Bunga, orang yang seluruh hidupnya adalah kepura-puraan, ngga natural. Dan sekarang banyak orang seperti dia".

Indramayu, 15 Januari 2015

Tulisaja

Minggu, 11 Januari 2015

Helm

HELM

Begitu sampai di rumah, Bewok langsung marah sejadi-jadinya.

"Ini ngga lucu. Kamu ini gimana sih? Gara-gara kamu, aku harus berurusan sama tukang becak", omel bewok setelah sebelumnya meneguk habis segelas besar air putih.

Bewok menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan, "mestinya kan saat aku menoleh ke kiri di perempatan jalan itu, kamu juga ikut menoleh ke kiri. Kamu malah terus menghadap ke depan. Saat aku kembali menoleh ke depan, lho kok kamu malah menoleh ke kanan. Akhirnya motorku nyeruduk pantat becak. Masih untung ngga kenceng".

"Asli, mending nyeruduk pantat BMW deh dari pada pantat becak. Jangankan kita yang salah. Lah dia yang salah aja galakan dia kok. Apalagi ini, kita yang salah. Apes, gara-gara ulahmu aku harus keluar 300 ribu. Masa cuma pelek ban belakang melengkung saja harus 300 ribu. Dalihnya sekalian buat urut dan uang kaget lah. Tapi mau gimana lagi? Lah wong teman-temannya sesama becak sudah merubung dengan muka mengerikan".

Yang diomeli hanya bisa melongo ternganga di sudut meja.

"Sekarang gimana? 300 ribu itu uang terakhirku. Hari ini mau makan apa coba? Kamu jangan diem saja. Ayo jawab. Mau makan apa?" Tanya Bewok berteriak dengan bola mata yang hampir keluar dari rumahnya dan muka merah matang.

Yang ditanyapun masih diam ternganga di tempat semula.

"Sial. Selalu begitu. Cuma diam yang kamu bisa" hardik Bewok sambil melangkah gontai masuk ke kamarnya, meninggalkan helm tua, yang sudah sangat longgar bila dikenakan, di sudut meja.

Indramayu, 12 Januari 2015

Tulisaja

Selasa, 06 Januari 2015

Makan

MAKAN

Selesai memasak mie instan, ibu itu lalu menyuguhkan untuk anak-anaknya yang telah menunggu dengan sabar di atas selembar tikar pandan. Bersama mereka, telah menunggu juga piring-piring berisi nasi putih di hadapan masing-masing anak yang lima orang itu.

Saat masing-masing anak mengambil mie goreng dengan riuhnya, tiba-tiba anak yang paling besar berucap "kata salah satu acara kesehatan di TV, tidak baik makan nasi dengan mie instan".

Sang ibu dengan teduh memandang anak sulungnya lalu berkata "nak, biarlah itu berlaku untuk mereka yang makan untuk menjaga kesehatan. Ada juga orang yang makan untuk kesenangan hidup. Kalau kita ini termasuk orang-orang yang makan untuk bertahan hidup. Jadi untuk sementara makan saja seadanya".

Anak-anak lalu melanjutkan makan malam mereka dengan lahapnya, sementara sang ibu menangis di pojok dapur.

Indramayu, 6 Januari 2014

Tulisaja

Senin, 29 Desember 2014

Apa Itu 'Ini'

APA ITU 'INI'

Sudah sekian kali terasa, tapi belum bisa juga aku fahami. Entah dari mana awalnya, ketika tonjokan-tonjokan perasaan yang kadang menyayat mulai menggoda ketentraman pikir.

Sungguh, ini bukan cinta, sangat berbeda jauh dari cinta. Cinta akan sangat mudah untuk dimengerti gelagatnya. Kalau barusan kau menyangka apa yang aku rasa itu cinta, itu salah kawan.

Cinta mesti punya objek, entah itu seseorang, suatu benda, aktivitas atau apapun. Tapi yang aku rasa ini tidak memiliki objek. Hanya rasa gundah yang membuncah tidak tentu arah dan warnanya. Menusuk-nusuk, sering kali menyayat.

Ini seperti jasad, jiwa dan pemikiran masih ada bersama-sama, tapi tidak sejalan bahkan mereka tengah berkelahi sengit. Dan ini sungguh memusingkan.

Kini aku teringat. Dulu pernah aku merasakan gejolak seperti ini, saat usiaku dua puluh tahun. Hantaman serupa kini muncul kembali. Akan berapa kalikah dalam hidup manusia mengalami ini? Ini dialami oleh setiap manusia, atau jangan-jangan hanya aku saja? Entahlah, apa itu 'ini'.

Indramayu, 17 Desember 2014

Tulisaja

Puisi (Tumben) Tentang Cinta

PUISI (TUMBEN) TENTANG CINTA

Lihatlah
Sudah ribuan maki aku reguk
Bahkan aku cecap tetesannya yang tercecer
Tidak akan bisa membusukkanku
Karena aku mencintaimu

Sering juga aku telan sumpah serapah
Menyirami hati yang menggila ini
Tidak juga melunglaikanku
Karena aku mencintaimu

Kau bahkan meluluhlantakkan nalarku
Kau jejakkan logika ini remuk tepat di bawah tumitmu
Sekalipun tidak akan pernah mematikanku
Kerena aku mencintaimu

Pernah kau hamparkan belaian manja
Menyapu mukaku yang tengah memerah
Itu benar-benar membutakanku
Karena aku mencintaimu

Berkali-kali kau panggang asmaraku
Di atas tungku kasih sayangmu
Dan kitapun hangus bersama
Karena aku mencintaimu

Inilah kenapa aku tidak suka mengobral cinta
Karena segera saja aku kehilangan makna
Karena cinta yang sudah aku sampaikan
Apakah benar itu cinta atau hasrat belaka

Indramayu, 30 Desember 2014

Tulisaja