Entri Populer

Minggu, 01 November 2026

Pendakian Ke Gunung Gede

 Pendakian Ke Gunung Gede

Gua lagi menggali ingatan tentang pendakian ngga terencana gua ke Gunung Gede di sekitar tahun 1989 atau 1990 atau, entah, lupa banget pastinya kapan. Ini pendakian tanpa persiapan dan tanpa dokumentasi atau foto. Makanya gua coba tuangin ke dalam tulisan supaya pengalaman ini ngga hilang begitu aja. Bahkan kadang gua juga ragu, ini benar terjadi, atau cuma khayalan atau mimpi yang kebetulan tersimpan kuat di ingatan.

Berawal dari ajakan Kang Hora saat gua baru turun dari kampus siang itu. "No arek moal milu ka Gunung Gede? Kimung ngajak naek Gunung Gede"

Berhubung, gua perkirakan, uang gua ngga cukup, terutama buat ongkos, "moal Re, teu boga duit uy".

"Kalem, jang ongkos mah aya. Lamun arek, urang mangkat ayeuna" Kang Hora menanggapi.

"Ai Kimung na mana?" tanya gua karena dari tadi belum ketemu itu orang.

"Manehna geus ti heula, urang sinah nyusul manehna No." jawab Kang Hora.

"Oh kitu, hayu lah. Dagoan sakedeung, urang rek siap-siap heula", jawab gua sambil bingung mau nyiapin apa.

Berbekal sebotol air dan sepotong roti sobek, jaket parasut Alpina biru tipis, tas ransel kuliah Jayagiri, gua ikut berangkat. Tanpa bekal senter, pakaian salin apa lagi perlengkapan pendakian lainnya.

Kurang jelas di ingatan gua siapa aja yang berangkat duluan bareng Kang Kimung dan siapa yang nyusul bareng Kang Hora. Kalo gua ga salah, dan ini masih belum terlalu jelas, Kang Kimung berangkat bareng Kang Edia dan Kang Yudi sementara Kang Hora bareng Kang Obay dan gua. Ini karena yang ada di ingatan gua, semuanya ada enam orang, Kang Kimung, Kang Edia, Kang Yudi, Kang Hora, Kang Obay dan gua.

Sampai di Cibodas sekitar jam 5 sore, langsung ke basecamp pendakian untuk ketemu Kang Kimung yang udah janjian sama Kang Hora untuk menunggu di situ. Di basecamp, tanpa susah, ketemu Kang Kimung yang langsung mengajak kami untuk ke dokter praktik terdekat untuk minta surat keterangan sehat sebagai syarat pendakian. Setelah naik angkot kira-kira sepuluh menit, sampailah kami di tempat praktik dokter. Tidak perlu menunggu lama, surat keterangan sehat pun selesai. Lalu kami kembali ke basecamp dan melakukan registrasi.

Selesai registrasi dan lanjut makan malam dengan menu mie instan, jam 7 malam kami istirahat di mushola basecamp. Sebelum istirahat Kang Kimung kasih info rencana pendakian akan dimulai jam 12 malam. Jadi masih cukup waktu untuk istirahat. Tidur di lantai ubin abu-abu tanpa alas, cuma pake jaket parasut Alpina biru tipis, bikin badan gua harus meringkuk cukup dalam.

Jam 12, ngga terasa waktu pendakian sudah tiba. Setelah semua siap, Kang Kimung mengumpulkan personil pendakian dan memberi sedikit briefing. Akhirnya gua tau cuma ada dua senter tangan yang kami bawa, satu dibawa Kang Kimung di depan dan satu lagi dibawa Kang Hora. Dan pendakian pun kami mulai dengan urutan Kang Kimung di depan, berikutnya Kang Edia, Kang Yudi, Kang Obay, Kang Hora, dan gua paling belakang.

Jalur pendakian cukup basah malam itu. Di beberapa tempat malah ada genangan air yang cukup bikin sepatu kami basah sejak awal pendakian. Malam ngga terlalu pekat meski di tengah hutan. Pohon-pohon masih bisa terlihat. Sepertinya sedang terang bulan tapi langit ga begitu cerah. 

Setelah beberapa lama, kami menjumpai jembatan kayu pendek setapak, di mana di sebelah kirinya tebing batu yang meluncur air terjun kecil dari sumber air panas dan sebelah kanannya jurang entah seberapa dalam. Uap air panas terlihat jelas mengepul saat terkena sinar senter.

Tiba-tiba Kang Yudi teriak cukup keras, "Ed dagoan euy, urang teu bisa ningali nanaon, poek".

Uap dari air panas bikin kacamatanya mengembun. Kami pun memperlambat langkah karena memang jalur jembatan kayu ini cukup berbahaya dan mengkhawatirkan.

Lepas dari situ, pendakian terus berlanjut. Entah sudah berapa lama kami berjalan. Tanah dan pepohonan masih basah. Beberapa kali kami lewati tumbuhan kecubung hutan di sela pohon-pohon besar, dengan bunga berbentuk terompet putih bergelantungan. Sepertinya bunga ini yang bikin di beberapa tempat tercium wangi seperti wangi bunga kopi.

Udara semakin dingin dan badan basah berkeringat. Banyak tanjakan terjal dan licin sudah kami lewati. Karenanya barisan kami menjadi renggang berjauhan. Saat itu gua baru sadar bahwa yang melakukan pendakian waktu itu hanya kami berenam dan nyaris saling terpisah.

Melewati jalur yang datar, gua yang paling belakang, ketemu Kang Hora berdiri sendiri.

"Kunaon Re ereun?" Gua tanya dia.

Dia jawab, "ngadagoan si Obay keur ngis*ng, jigana diare".

"Waduh. Ari kitu urang lanjut heula nyusul nu lain di hareup, sinah ngadagoan heula", kata gua

Gua lanjut jalan berharap bisa nyusul Kang Edia, Kang Yudi dan Kang Kimung supaya bisa nunggu Kang Hora dan Kang Obay.

Sedikit gua percepat langkah. Setelah beberapa lama, samar di depan terlihat rumah panggung kecil dengan tiga orang tengah duduk-duduk di terasnya dan salah seorang menyorotkan senter ke arah gua. Gua berharap mereka Kang Kimung, Kang Edia dan Kang Yudi, dan ternyata benar. Gua infokan kondisi Kang Obay yang kemungkinan terkena diare dan minta untuk menunggu mereka di situ.

Sambil menunggu, gua buka bekal. Selang berapa lama, sampailah Kang Hora dan Kang Obay.

Menurut Kang Kimung, rumah panggung dengan dinding setinggi lutut itu adalah Pos Pendakian Kandang Badak. Kami putuskan untuk istirahat di pos itu. Samar gua lihat ada tiga orang lain yang sudah lebih dulu istirahat di dalam. Satu orang tidur menggunakan sleeping bag dan dua orang tidur meringkuk dibungkus sarung.

Udara terasa semakin dingin karena kami berhenti bergerak. Setelah sekitar satu jam istirahat, perjalanan kami lanjutkan, masih di tengah vegetasi hutan yang lebat. Jalur semakin terjal dan basah. Di beberapa tempat ada pohon tumbang melintang jalur. Sepertinya tumbang sudah cukup lama karena kulit kayunya sudah sudah tidak ada dan kayu mulai lapuk.

Sekitar dua atau tiga jam perjalanan, kami sampai di area yang vegetasinya mulai terbuka. Langit terbuka tapi tidak terlihat jelas karena kabut cukup tebal di ujung malam itu.

Melewati pagi, kami sampai di puncak dan Kang Kimung menunjuk sesuatu.

"Eta patokna", katanya.

Patok puncak Gunung Gede yang dia tunjuk. Di kejauhan samar terlihat padang edelweis. Mungkin daerah itu yang disebut alun-alun Suryakencana, pikir gua. Sebentar saja kami berada di puncak karena cuaca mulai memburuk. Kabut semakin tebal dan kami harus segera turun.

Kami bergerak secepat mungkin karena gerimis mulai melebat. Waktu itu tidak ada yang dipikirkan kecuali ingin segera sampai di basecamp. Berlari, kadang berjalan kalau nafas sudah terengah. Sesekali tertawa saat ada yang terpeleset. Kami bertingkah layaknya anak-anak yang tengah mandi hujan, capek tapi menyenangkan.

Pos-pos, pohon-pohon tumbang, bunga-bunga terompet kami lewati.

Hujan, diselingi gerimis pada beberapa tempat, membuat jalur pendakian menjadi semakin sulit.

Sore hari kami sampai kembali di basecamp. Cuaca masih menyisakan gerimis. Setelah istirahat sekitar satu jam, dengan pakaian, tas, sepatu basah, kami kembali ke Bandung karena beberapa orang, termasuk gua, punya jadwal kuliah besok harinya.

Besoknya gua ada kuliah dari Pak Liem. Kalo ada temen-temen yang masih inget, di kuliah Pak Liem Jan Sue, di ruang kuliah ada bau-bau ngga sedap mendekati busuk, itu bersumber dari kaki gua dengan sepatu yang masih basah dan telapak kaki yang keriput parah kaya kulit jeruk purut karena gua ngga ada sepatu lain.


Cirebon, Sabtu 31 Oktober 2026

Tino

Sabtu, 03 Maret 2018

GAPURA PONDOK GEDE

Gapura Pondok Gede

Gapura ini adalah mulut jalan menuju bangunan besar itu, Pondok Gede. Jalannya menanjak berbatu. Di sisi kanan jalan, ada dua bangunan yang cukup menakutkan bagiku waktu itu.

Bangunan pertama semacam tempat pembakaran dengan tungku yang besar dengan cerobong acap menjulang tidak terlalu tinggi. Bangunan kedua sepertinya pabrik pengolahan karet. Di dalamnya ada beberapa unit gilingan besar, seperti alat penggiling kulit molen pisang berukuran besar, dengan lebar gilingan sekitar satu meter. Ada juga beberpa guci buatan cina dengan mulut guci lebar. Seperti mangkok besar, cukup untuk aku masuk mandi berendam. Tingginya sedadaku saat itu. Mangkok-mangkok besar itu digunakan untuk menampung cairan amoniak untuk merendam bahan baku karet. Beberapa diletakkan di luar banguan untuk menampung air hujan.

Selepas bangunan kedua adalah halaman banguan utama.

Akan banyak yang aku ingat tentang bangunan itu, gapura itu, jalan itu, lapangan itu, bahkan aku masih ingat pohon-pohon besar di sekitarnya, rumah-rumah tua di sekelilingnya. Aku masih ingat tanah-tanahnya, sumur-sumurnya, keluarga-keluarga tetanggaku di lingkungan itu. Komplek Inkopau, begitu orang menyebutnya dulu dan sekarang sudah beralih wujud menjadi Pondok Gede Mall. Selamat Datang Di Pondok Gede Mall

Catatan:
Gedung Pondok Gede dan area sekitar pernah dijadikan lokasi utama shooting film Benyamin Sueb berjudul Tiga Jango

Aku tulis ini sambil menahan rasa sedih mengingat semua tidak akan bisa disaksikan lagi

26 Nopember 2017

tino

PONDOK GEDE

PONDOK GEDE

Bangunan inilah yang menjadi asal-usul nama daerah Pondok Gede. Sebuah kecamatan di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi Barat.
Bangunan inilah tempat aku menghabiskan masa anak-anak sampai remajaku. Detilnya masih aku ingat betul. Saat sore sehabis bermain sepak bola di lapangan depan bangunan, kami seringkali menunggu ribuan kelelawar keluar dari celah-celah gentengnya. Buat kami itu seperti alarm "hari sudah sore dan sebentar lagi maghrib datang". Sering juga di hari Minggu pagi, sepulang lari pagi, kami berbaring terlentang di halaman gedung untuk menyaksikan ribuan kelelawar itu pulang dari petualangannya sepanjang malam. Dari ketinggian satu persatu menukik deras menuju celah-celah genteng lalu berhenti dan masuk ke loteng gedung.

Satu waktu aku pernah diajak kakak iparku, yang bekerja di perkebunan karet dan berkantor di gedung itu, melihat loteng gedung. Kami menaiki tangga dan masuk ke loteng. Terbentang loteng dari kayu tebal berlapis kotoran kelelawar menyerupai karpet tebal dan empuk. Baunya yang menyengat masih bisa aku rasakan sampai saat ini. Di atap terlihat gundukan-gundukan hitam dari gerombolan kelelawar yang menggantung. Beberapa masih menciap-ciap dan berterbangan pindah dari satu tempat ke tempat lain. Cukup gelap dan lembab, tapi aku masih bisa melihat meraka dibantu cahaya dari sisa-sisa celah genteng yang tidak tertutup gundukan hitam.

Bangunan ini banyak ditopang tiang-tiang kayu jati panjang sebesar pelukan orang dewasa. Dibagi menjadi banyak ruang. Seingatku, bagian depan tengah bangunan adalah kantor perkebunan karet, tempat dimana kakak iparku bekerja. Kantor perkebunan itupun bersekat-sekat lagi. Tengah bagian belakang dijadikan poliklinik. Aku ingat ada seorang dokter yang menjadi momok buat anak-anak seusiaku saat itu, namanya dr. Simon. Membayangkan sosoknya akan sangat menakutkan bila aku sedang sakit dan harus ke dokter.

Bagian sayap kiri dari banguan di tempati sebuah keluarga besar Bapak Nandika. Beberapa cucu beliau menjadi teman bermain kami waktu kecil. Di bagian kanan ada sebuah gudang besar yang kemudian difungsikan menjadi aula, tempat banyak aktivitas ikatan remaja diselenggarakan.(Bersambung)

Rabu, 19 Juli 2017

Karenamu

KARENAMU

Kenapa aku mulai menyukai kayu?
Aku mulai belajar memotong
Aku mulai mengayunkan serut
Aku mulai berani memukul pahat

Karena sebentar lagi akan aku bikin sepasang bangku yang nyaman
Dan sebuah meja kopi yang lebar dan kokoh
Untuk kita berlama-lama berdua
Menghabiskan sisa sisa masa tua

Tentu kau masih ingat tiga botol kosong bekas kecap yang aku bawa
Akan aku jadikan ketiganya serangkaian lampu hias
Yang akan aku tempatkan tepat di atas meja

Cahayanya yang temaram bercampur aroma kopi yang kau suguhkandalam balutan keteduhan pandanganmu
Akan membuat aku terus berharap bahwa waktu tidak pernah beranjak

Kasih
Bolehkah aku minta
Secangkir kopi lagi?
Karena di sore ini kita masih punya banyak waktu untuk bersama.

RS Sumber Kasih Cirebon, 13 Juli 2017

tino

Sabtu, 28 Januari 2017

Perang

Perang

Aku mulai mencium aroma perang
Bubuk-bubuk mesiu sudah mulai dituangkan ke dalam tabung-tabung kebencian
Bercampur kerak dari hati manusia berkarat
Siap diledakkan untuk membunuh lawan

Saat perang terjadi
Akan tersibak aslinya manusia
Banyak peran yang ditawarkan
Apakah akan menjadi pejuang yang gagah berani
Atau menjadi si penakut yang terus bersembunyi
Atau menjadi si muka dua yang dukung kanan kiri
Putih, hitam dan abu-abu

Dan aku boleh ambil peran mana saja yang aku mau
Dan kau boleh ambil peran mana saja yang kau mau
Dan mereka boleh ambil peran mana saja yang mereka mau
Dan aku, kau dan mereka boleh ambil posisi mana saja yang kita mau untuk berpihak
Karena ini perang, ini masalah nyali

Kalau aku dan kau tidak dalam pihak yang sama, maka kita akan saling berhadapan
Kalau aku dan kau dalam satu pihak yang sama, maka kita akan berjuang bersama

Tidak ada yang diuntungkan dari perang
Kalah atau menang sama-sama hancur
Karena aku hanya membela aku dan kau membela akumu
Kecuali dalang yang akan segera berpesta
Sementara kita binasa

Jatibarang, 28 Januari 2017

tino


Rabu, 16 November 2016

Kebenaran

KEBENARAN

Mereka menggenggam kebenarannya masing-masing dalam kepalannya. Menggenggam erat hingga kuku-kuku jari menghunus telapak tangan. Melindungi dengan kokoh. Tidak ingin jari-jari merenggang dan kebenaran terlepas. Darah pun mulai menetes.

Mereka seperti anak-anak yang tengah menyembunyikan kelereng terbaik mereka. Tidak boleh seorangpun melihatnya. Di saat ada yang memaksa ingin melihat, genggaman menjadi semakin kuat.

Semakin keras tangan menggenggam, semakin terilusi bahwa kebenaran di dalam bersinar benderang. Mereka semakin tidak ingin melepaskan. Masing-masing menganggap kebenaran miliknyalah yang paling cemerlang.

Dibawanya kemanapun pergi sambil terus membayangkan pancarannya yang memenuhi ruang telapak tangan. Hingga saat tiba di sisi pembaringan, akan ditaruhnya kebenaran ke dalam guci tembikar.

Dibukanya kepalan dan direkahkannya jemari. Tidak ditemukan apapun di telapak berdarah. Kosong. Hanya terisa empat lubang luka. "Kemana perginya kebenaranku?" tanyanya kelu. "Padahal sedari pagi ada dalam genggamanku".

Dan merekapun harus terlelap dengan kebenaran yang baru yang dibuatnya sesaat sebelum tidur. Sementara aku di sini juga sudah lelap dengan kebenaran yang aku punya.

Jatibarang 17 Nopember 2016

tino

Jumat, 13 November 2015

Kembali

KEMBALI

Gedung-gedung masih pulas dan basah sehabis hujan semalam. Halte-halte busway benderang oleh lampu-lampu terang tapi kosong. Jalan-jalan sedikit tergenang menyediakan cermin untuk langit memantas diri menyambut pagi. Hari mulai menggeliat katika aku harus tinggalkan kota.

Stasiun Gambir, tempat aku akan dilesatkan untuk kembali ke alam nyataku. Alam di mana aku harus kembali kepada rutinitas; bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat kerja, bekerja, pulang, istirahat dan tidur. Rutinitas sebagai budak kebutuhan, budak dunia yang lapar.

Stasiun Gambir, hidup dua puluh empat jam sehari, tidak pernah sepi. Tempat di mana orang-orang dikumpulkan dalam kotak-kotak tujuan dan dipindahkan ke mimpi mereka masing-masing. Dini hari mereka terlihat bergerak seperti robot-robot karena masih enggan untuk berbicara. Mencari tiket, menaiki anak tangga, masuk ke gerbong, duduk dan terlelap.

Peluit melengking memberi tanda untuk kereta agar segera berangkat. Peluit yang sama menamparku memberi tahu bahwa cutiku telah berakhir dan itu berarti aku harus kembali ke kubanganku lagi.

Gambir, 14 Nopember 2015

tino