Pendakian Ke Gunung Gede
Gua lagi menggali ingatan tentang pendakian ngga terencana gua ke Gunung Gede di sekitar tahun 1989 atau 1990 atau, entah, lupa banget pastinya kapan. Ini pendakian tanpa persiapan dan tanpa dokumentasi atau foto. Makanya gua coba tuangin ke dalam tulisan supaya pengalaman ini ngga hilang begitu aja. Bahkan kadang gua juga ragu, ini benar terjadi, atau cuma khayalan atau mimpi yang kebetulan tersimpan kuat di ingatan.
Berawal dari ajakan Kang Hora saat gua baru turun dari kampus siang itu. "No arek moal milu ka Gunung Gede? Kimung ngajak naek Gunung Gede"
Berhubung, gua perkirakan, uang gua ngga cukup, terutama buat ongkos, "moal Re, teu boga duit uy".
"Kalem, jang ongkos mah aya. Lamun arek, urang mangkat ayeuna" Kang Hora menanggapi.
"Ai Kimung na mana?" tanya gua karena dari tadi belum ketemu itu orang.
"Manehna geus ti heula, urang sinah nyusul manehna No." jawab Kang Hora.
"Oh kitu, hayu lah. Dagoan sakedeung, urang rek siap-siap heula", jawab gua sambil bingung mau nyiapin apa.
Berbekal sebotol air dan sepotong roti sobek, jaket parasut Alpina biru tipis, tas ransel kuliah Jayagiri, gua ikut berangkat. Tanpa bekal senter, pakaian salin apa lagi perlengkapan pendakian lainnya.
Kurang jelas di ingatan gua siapa aja yang berangkat duluan bareng Kang Kimung dan siapa yang nyusul bareng Kang Hora. Kalo gua ga salah, dan ini masih belum terlalu jelas, Kang Kimung berangkat bareng Kang Edia dan Kang Yudi sementara Kang Hora bareng Kang Obay dan gua. Ini karena yang ada di ingatan gua, semuanya ada enam orang, Kang Kimung, Kang Edia, Kang Yudi, Kang Hora, Kang Obay dan gua.
Sampai di Cibodas sekitar jam 5 sore, langsung ke basecamp pendakian untuk ketemu Kang Kimung yang udah janjian sama Kang Hora untuk menunggu di situ. Di basecamp, tanpa susah, ketemu Kang Kimung yang langsung mengajak kami untuk ke dokter praktik terdekat untuk minta surat keterangan sehat sebagai syarat pendakian. Setelah naik angkot kira-kira sepuluh menit, sampailah kami di tempat praktik dokter. Tidak perlu menunggu lama, surat keterangan sehat pun selesai. Lalu kami kembali ke basecamp dan melakukan registrasi.
Selesai registrasi dan lanjut makan malam dengan menu mie instan, jam 7 malam kami istirahat di mushola basecamp. Sebelum istirahat Kang Kimung kasih info rencana pendakian akan dimulai jam 12 malam. Jadi masih cukup waktu untuk istirahat. Tidur di lantai ubin abu-abu tanpa alas, cuma pake jaket parasut Alpina biru tipis, bikin badan gua harus meringkuk cukup dalam.
Jam 12, ngga terasa waktu pendakian sudah tiba. Setelah semua siap, Kang Kimung mengumpulkan personil pendakian dan memberi sedikit briefing. Akhirnya gua tau cuma ada dua senter tangan yang kami bawa, satu dibawa Kang Kimung di depan dan satu lagi dibawa Kang Hora. Dan pendakian pun kami mulai dengan urutan Kang Kimung di depan, berikutnya Kang Edia, Kang Yudi, Kang Obay, Kang Hora, dan gua paling belakang.
Jalur pendakian cukup basah malam itu. Di beberapa tempat malah ada genangan air yang cukup bikin sepatu kami basah sejak awal pendakian. Malam ngga terlalu pekat meski di tengah hutan. Pohon-pohon masih bisa terlihat. Sepertinya sedang terang bulan tapi langit ga begitu cerah.
Setelah beberapa lama, kami menjumpai jembatan kayu pendek setapak, di mana di sebelah kirinya tebing batu yang meluncur air terjun kecil dari sumber air panas dan sebelah kanannya jurang entah seberapa dalam. Uap air panas terlihat jelas mengepul saat terkena sinar senter.
Tiba-tiba Kang Yudi teriak cukup keras, "Ed dagoan euy, urang teu bisa ningali nanaon, poek".
Uap dari air panas bikin kacamatanya mengembun. Kami pun memperlambat langkah karena memang jalur jembatan kayu ini cukup berbahaya dan mengkhawatirkan.
Lepas dari situ, pendakian terus berlanjut. Entah sudah berapa lama kami berjalan. Tanah dan pepohonan masih basah. Beberapa kali kami lewati tumbuhan kecubung hutan di sela pohon-pohon besar, dengan bunga berbentuk terompet putih bergelantungan. Sepertinya bunga ini yang bikin di beberapa tempat tercium wangi seperti wangi bunga kopi.
Udara semakin dingin dan badan basah berkeringat. Banyak tanjakan terjal dan licin sudah kami lewati. Karenanya barisan kami menjadi renggang berjauhan. Saat itu gua baru sadar bahwa yang melakukan pendakian waktu itu hanya kami berenam dan nyaris saling terpisah.
Melewati jalur yang datar, gua yang paling belakang, ketemu Kang Hora berdiri sendiri.
"Kunaon Re ereun?" Gua tanya dia.
Dia jawab, "ngadagoan si Obay keur ngis*ng, jigana diare".
"Waduh. Ari kitu urang lanjut heula nyusul nu lain di hareup, sinah ngadagoan heula", kata gua
Gua lanjut jalan berharap bisa nyusul Kang Edia, Kang Yudi dan Kang Kimung supaya bisa nunggu Kang Hora dan Kang Obay.
Sedikit gua percepat langkah. Setelah beberapa lama, samar di depan terlihat rumah panggung kecil dengan tiga orang tengah duduk-duduk di terasnya dan salah seorang menyorotkan senter ke arah gua. Gua berharap mereka Kang Kimung, Kang Edia dan Kang Yudi, dan ternyata benar. Gua infokan kondisi Kang Obay yang kemungkinan terkena diare dan minta untuk menunggu mereka di situ.
Sambil menunggu, gua buka bekal. Selang berapa lama, sampailah Kang Hora dan Kang Obay.
Menurut Kang Kimung, rumah panggung dengan dinding setinggi lutut itu adalah Pos Pendakian Kandang Badak. Kami putuskan untuk istirahat di pos itu. Samar gua lihat ada tiga orang lain yang sudah lebih dulu istirahat di dalam. Satu orang tidur menggunakan sleeping bag dan dua orang tidur meringkuk dibungkus sarung.
Udara terasa semakin dingin karena kami berhenti bergerak. Setelah sekitar satu jam istirahat, perjalanan kami lanjutkan, masih di tengah vegetasi hutan yang lebat. Jalur semakin terjal dan basah. Di beberapa tempat ada pohon tumbang melintang jalur. Sepertinya tumbang sudah cukup lama karena kulit kayunya sudah sudah tidak ada dan kayu mulai lapuk.
Sekitar dua atau tiga jam perjalanan, kami sampai di area yang vegetasinya mulai terbuka. Langit terbuka tapi tidak terlihat jelas karena kabut cukup tebal di ujung malam itu.
Melewati pagi, kami sampai di puncak dan Kang Kimung menunjuk sesuatu.
"Eta patokna", katanya.
Patok puncak Gunung Gede yang dia tunjuk. Di kejauhan samar terlihat padang edelweis. Mungkin daerah itu yang disebut alun-alun Suryakencana, pikir gua. Sebentar saja kami berada di puncak karena cuaca mulai memburuk. Kabut semakin tebal dan kami harus segera turun.
Kami bergerak secepat mungkin karena gerimis mulai melebat. Waktu itu tidak ada yang dipikirkan kecuali ingin segera sampai di basecamp. Berlari, kadang berjalan kalau nafas sudah terengah. Sesekali tertawa saat ada yang terpeleset. Kami bertingkah layaknya anak-anak yang tengah mandi hujan, capek tapi menyenangkan.
Pos-pos, pohon-pohon tumbang, bunga-bunga terompet kami lewati.
Hujan, diselingi gerimis pada beberapa tempat, membuat jalur pendakian menjadi semakin sulit.
Sore hari kami sampai kembali di basecamp. Cuaca masih menyisakan gerimis. Setelah istirahat sekitar satu jam, dengan pakaian, tas, sepatu basah, kami kembali ke Bandung karena beberapa orang, termasuk gua, punya jadwal kuliah besok harinya.
Besoknya gua ada kuliah dari Pak Liem. Kalo ada temen-temen yang masih inget, di kuliah Pak Liem Jan Sue, di ruang kuliah ada bau-bau ngga sedap mendekati busuk, itu bersumber dari kaki gua dengan sepatu yang masih basah dan telapak kaki yang keriput parah kaya kulit jeruk purut karena gua ngga ada sepatu lain.
Cirebon, Sabtu 31 Oktober 2026
Tino