PECUNDANG
Pulang kerja sore tadi, aku melihat banyak anak punk di sepanjang jalan Jatibarang - Indramayu. Akan ada konser Iwan Fals malam nanti.
Rata rata mereka ada di usia ABG. Celana pensil hitam, t'shirt hitam sudah jadi dresscode paten mereka. Ditambah accesoris pearching dihidung, telinga dan sebagian bertato plus penampilan kumuh terkesan 'mandi kalo turun hujan' membuat logika ini sedikit sinis bergumam "mo jadi apa lo pada ntar kalo dah gede?"
Tiba tiba mata ini tertarik pada tulisan di t'shirt salah seorang anak. Tulisan warna kuning di atas t'shirt hitam dengan huruf kapital jelas terbaca "MUSUH UTAMAKU ADALAH PECUNDANG", membuat aku berpikir ulang tentang arti kata "pecundang".
Indramayu, Desember 2013
Tulisaja
Blog ini dengan sadar dibuat untuk menampung muntahan isi kepala yang seringkali lumer dan meleleh berupa tulisan yang kadang jelas kadang samar, kadang cerah kadang suram, kadang riang kadang murung. Semoga masih bisa dinikmati. Tino
Entri Populer
-
DI DUNIA Prosesnya adalah : 1. Lahir 2. Balita 3. Anak-anak 4. Remaja 5. Dewasa 6. Tua 7. Mati Catatan : Mati ...
-
PONDOK GEDE Bangunan inilah yang menjadi asal-usul nama daerah Pondok Gede. Sebuah kecamatan di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi Barat. ...
-
KUACI Kasih Mungkin inilah cara terbaik kita menutup hari Biarkanlah hanya jari dan mulut kita yang menari mencari Habiskan sisa ...
-
NASI UDUK Nasi uduk berkawan karib dengan bawang goreng dan emping. Dari dulu begitu, ga pernah berubah. Ada kawan-kawan lain yang mengisi ...
-
KEROCO Namaku Keroco. Ini bukan nama samaran atau julukan, apalagi nama penaku. Sungguh ini nama asli pemberian orang tuaku yang tercantum ...
-
REALISTIS Sore ini Bewok pulang dengan membawa sebungkus amarah pada mukanya yang membara. Dia marah setengah gila usai mendengarkan sosial...
-
Gapura Pondok Gede Gapura ini adalah mulut jalan menuju bangunan besar itu, Pondok Gede. Jalannya menanjak berbatu. Di sisi kanan jalan, ad...
-
RELATIF Aku kaya juga miskin Aku pintar juga bodoh Aku baik juga buruk Aku bagus juga jelek Aku benar juga salah Aku ini juga itu Aku...
-
MAESAROH Akhirnya Bewok memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Pekerjaan yang sudah belasan tahun dia geluti, sebagai karyawan di sebua...
-
RUBIK Masih ingat dengan permainan ini? Mudah-mudahan masih ingat. Saat duduk di bangku SD, saya mencoba permainan ini, tidak pernah bisa,...
Selasa, 14 April 2015
Pecundang
Satu Kata
SATU KATA
"Ini saya harus sampaikan di sini. Di forum ini. Karenanya semua teman-teman saya undang untuk berkumpul. Maksud saya mengundang teman-teman semua di sini sebenarnya hanya satu alasan. Saya mau minta ijin ke teman-teman semua. Tolong ijinkan saya mengucapkan sesuatu di hadapan teman-teman. Sebenernya sudah sejak beberapa waktu lalu saya ingin mengucapkannya. Sebenarnya saya bisa mengucapkannya di mana saja, tanpa harus ada forum seperti ini. Tapi kok ya kalau dirasa-rasa, seperti kurang enak kalau saya mengucapkan ini tidak di depan teman-teman semua. Kurang afdol rasanya".
"Yang ingin saya ucapkan ini sudah sangat menggumpal dan padat di kepala saya. Minta segera dikeluarkan. Tapi, ya itu tadi, saya menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkannya. Walau dengan sangat terpaksa, saya harus menahan dengan susah payah, supaya kata ini tidak terlanjur tumpah. Nah, berhubung teman-teman semua sudah berkumpul di sini, perkenankan saya untuk mengucapkannya, sekedar untuk melonggarkan isi kepala dan dada saya. Apa ada yang keberatan kalo saya mengucapkannya saat ini? Semoga tidak ada yang keberatan. Karena kalau kata ini batal untuk diucapkan, akan sangat menyiksa saya di sepanjang sisa umur saya. Kepala yang terlanjur padat ini akan membatu dan rongga dada yang sudah sesak ini akan membusuk. Jadi, sepertinya tidak ada pilihan lain buat teman-teman semua selain mengijinkan saya mengucapkannya sekarang. Ini seperti perlunya pelepasan saat orang sudah sangat kebelet ke belakang, atau seperti ibu hamil saat anak dalam kandungannya sudah minta untuk keluar. Untuk itu, tolonglah. Ijinkan saya mengucapkannya, satu kali saja. Saya tidak akan menyita waktu teman-teman terlalu lama. Karena saya hanya perlu mengucapkan satu kali saja. Cuma satu kali. Saya tidak akan minta tambah jadi dua atau tiga kali. Satu kali, cukup. Bagaimana teman-teman, apakah teman-teman sepakat bulat mengijinkan saya mengucapkannya sekarang?".
Semua hanya diam, menundukkan wajah.
"Baiklah, kalau memang sudah sepakat untuk mengijinkan, saya akan ucapkan. Tapi sebentar teman-teman. Saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung atau marah setelah saya mengucapkannya. Apalagi ada yang menaruh rasa dendam di hati. Saya harap teman-teman bisa memaklumi ini. Karena saya yakin, seyakin-yakinnya, ini akan sangat meringankan isi kepala saya dan akan melapangkan rongga dada saya. Dan lagi pula, teman-teman tidak bisa tersinggung atau marah, apalagi dendam. Karena saya mengucapkan itu atas ijin teman-teman semua. Tapi, kalaupun ada dari teman-teman yang tersinggung, marah atau dendam sekalipun, sejujurnya saya tidak perduli. Jadi, sudah tidak ada alasan kan?” Panjang, mantan calon anggota legislatif yang gagal itu bicara di depan para pendukung, juga mantan pendukung dan team suksesnya, tanpa ada yang berani menyela ataupun interupsi.
Dan dia melanjutkan, "baiklah teman-teman, saya hanya ingin mengucapkan kata ini satu kali di depan teman-teman semua".
Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Lalu dia berteriak keras dan panjang seperti lolongan. Sampai-sampai nadi di lehernya menggembung, mata melotot dan tubuh serta kepala bergetar hebat, "annjeeeeeeeeeeng”.
Dan orang itu pun menggelepar, lalu pingsan.
Tiga bulan berlalu. Di halaman sebuah Rumah Sakit Jiwa, terlihat seorang pasien tengah berpidato, berapi-api.
"Ini saya harus sampaikan di sini. Di forum ini...".
Jatibarang, 9 Januari 2014
Tulisaja
Rabu, 08 April 2015
Takdir
TAKDIR
Bahkan aku sudah tidak ingin lagi untuk bermimpi. Ribuan petuah motivasi dari mereka, biarlah untukmu saja. Ya, untukmu saja semua. Tidak akan aku sisakan satupun untukku.
Biarkan kini aku memeluk takdirku. Sesuka dia ingin membawa aku. Mengombang-ambingkan aku. Melambungkan dan menghempaskan. Aku ikuti saja iramanya, alirannya. Tidak akan lama, aku yakin itu. Jika aku lawan alirannya pun, tetap akan membawaku ke muara yang sama.
Aku mulai hafal tabiat takdir. Semakin ditentang, semakin sengit dia menerjang. Semakin dilawan, semakin brutal dia mempermainkan. Saat dipasrahkan, malah lembut dia membelai. Semakin dipasrahkan, semakin sejuk dia memanjakan.
Aku mulai hafal tabiatnya. Sayangnya, aku sering kehilangan kesabaran meladeninya.
Jatibarang,
8 April 2015
Tulisaja
Senin, 06 April 2015
Nasi Uduk
NASI UDUK
Nasi uduk berkawan karib dengan bawang goreng dan emping. Dari dulu begitu, ga pernah berubah. Ada kawan-kawan lain yang mengisi kehidupan mereka, tapi silih berganti, ga ada yang pasti. Yang rada setia menemani paling ayam goreng dan itupun ga pernah jelas bagian apa, kadang paha atas, paha bawah, sering juga sayap.
Suatu hari bawang goreng sakit. Dia ga bisa berkumpul seperti biasanya. Lantas saja terasa hambarlah hari-hari yang dirasa oleh nasi uduk maupun emping. Hari berlalu begitu saja tanpa ada keriangan. Nasi uduk melaluinya dengan wajah murung. Sementara emping melewatinya dengan cemberut dan melempem. Ketidakhadiran yang memuramkan hari.
Wahai, begitu indahnya persahabatan. Disaat ada satu ketidakhadiran, akan menghambarkan semua rasa. Nasi uduk, bawang goreng dan emping, selalu begitu dari dulu dan ga pernah berubah.
"Mas bawang gorengnya mana, kok nasi uduk saya belum dikasih bawang goreng?" tanyaku ke mas pedagang nasi uduk pinggir jalan itu.
"Sakit" jawabnya singkat.
Dan aku melongo takjub.
Indramayu, 3 Pebruari 2014
Tulisaja
Minggu, 05 April 2015
Kemah
KEMAH
Harum daun jati masih melekat pada lembar-lembar sinar matahari pagi. Ini pagi ke tiga aku berada di kemah ini. Memang bukan sebuah kemah yang sempurna, tapi ini kesendirianku yang utuh.
Satu keluarga ketilang riang membangun hari, membuat aku iri. Sang induk menyulam sarang pada beberapa sisinya yang rusak. Sementara dua anaknya menciap-ciap. Ciapan dengan mulut terbuka lebar dan urat leher menegang kencang, lapar.
Aku baru saja mencoba menyalakan satu blok parafin pada tungku tumpukan batu."Secangkir kopi akan membuat pagi ini sempurna," pikirku.
Menunggu air mendidih, aku ambil buku catatan dan ballpoint. Belum banyak yang aku tulis ketika aku dengar air mendidih dari panci. Aku tuangkan air pada cangkir kaleng untuk meleburkan kopi sachetan. Seketika harum kopi bergumul bersaing, mematikan harum daun jati.
"Ah, kemana perginya harum daun jati?" Tanyaku, dalam hati. Akupun merasa kehilangan.
Sedikit terbersit rasa menyesal. Harum kopi hanya bisa sedikit menghiburku atas kerinduan. Kerinduan akan suasana yang sudah aku robek sendiri untuk menuruti keinginan. Aku tidak menyangka, harum kopi justru merusak suasana pagi ini.
Semoga aku bisa dapatkan suasana bersama harum daun jati itu besok pagi, di hari terakhirku.
Sekedar menenangkan hati, aku baca kembali catatan tadi.
"Harum daun jati masih melekat pada lembar-lembar sinar matahari pagi. Ini pagi ke tiga aku berada di kemah ini. Memang bukan sebuah kamah yang sempurna, tapi ini kesendirianku yang utuh ..."
Indramayu, 5 April 2015
Tulisaja
Sabtu, 04 April 2015
Cukil
CUKIL
Menertawai kenyataan bahwa aku belum juga bisa memahami kenyataan. Itulah yang aku lakukan saat ini. Saat yang terjadi justru menyimpang dari yang diharapkan. Aku kadang berpikir, "Tuhan juga maha bercanda."
Pikiran konyol ini kadang membuat aku merasa lancang dan berdosa. Tapi sering juga malah membuat aku merasa tenang karena meyakini Tuhan masih dekat denganku walau aku kerap lupa dan menjauh.
KehendakNya unik bagiku. KehendakNya dalam kehendak yang sudah selesai ditulisNya, tidak terduga dan seringkali mengejutkan. Hal baik atau hal buruk yang terjadi, selalu membuat torehan pada permukaan perasaan. Dangkal atau dalam, tebal atau tipis, halus atau kasar, membentuk rupanya sendiri, khusus untuk aku.
Aku seperti tengah memperhatikan satu karya seni cukil, di permukaan pemahamanku, yang belum bisa aku mengerti.
Jatibarang, 4 April 2015
Tulisaja
Kamis, 02 April 2015
Cinta Semestinya Jernih
CINTA SEMESTINYA JERNIH
Kalau cinta perlu pengorbanan, berarti ada yang salah. Cinta semestinya berjalan apa adanya, jernih, murni dan ringan. Tanpa ada yang berkorban, tanpa ada yang dikorbankan, karena cinta sesungguhnya tidak pernah menuntut.
Saat kita merasa perlu berkorban untuk cinta, sesungguhnya kita tidak sedang mencintai, tapi kita sedang jual beli.
Jatibarang, 2 April 2015
Tulisaja